Resensi Novel "Dilan 1990"

Judul Novel          : Dilan : Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis                  : Pidi Baiq
Penerbit                : PT. Mirzan Rustaka
Tahun Terbit         : 2015
Jumlah Halaman : 348 Halaman


     Novel ini merupakan novel kesembilan Karya Pidi Balg yang menceritakan sebuah kisah anta sedertara antara dua arat muda yang memakai bahasa sedentara. Novel ini sukses menjadi best seller dan kemudian diadaptasi menjadi sebuah Film Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 2015 deh Pastel Books, PT. Mirzan Pustaka.

     Cinta, walaupun sudah berlalu sekian lama, tetap saja, masih dikenang begitu manis, Gadis yang kerap disapa Lia ini Kembali ke tahun 1990 an, untuk menceritakan kisah tentang dirinya dan seorang laki-laki yang dia cintai, Dilan
     Bandung 1990, Kabut tipis hadir disela sinar matahari yang belum Kelihatan. Suara motor tua memecah keheningan diawal hari itu. Milea berjalan kaki menuju sekolah. Sudah 2 minggu dia sekolah di SMA yang terletak di Buahbatu, Bandung
     Dia anak baru, pindahan dari Jakarta. Ibunya adalah orang Sunda, sedangkan ayahnya adalah seorang Tentara di Sumatra Barat. Milea tak pernah menyangka Pertemuan pertama dia dengan lelaki yang bernama Dilan pagi itu akan mengubah hari-harinya. Dilan muncul pertama kali sebagai sosok peramal dihadapannya. Peramal itu mengatakan bahwa mereka akan bertemu dikantin.
     Laki-laki yang mendekatin bukan dengan seikat bunga atau kata kata manis untuk menarik perhatiannya. Namun, melalui ramalan seperti tergambarkan pada Penggalan cerita berikut:
 "Aku Ramal, Nanti kita akan bertemu di Kantin."
     Tapi sayang sekali, ramalannya salah. Hari itu. Milea tidak ke Kantin Karena la harus membicarakan urusan kelas. Cara yang seperti itulah yang Dilan lakukan untuk Merarik Perhatian dari Milea. Dilan mengirim Piyan untuk menyampaikan surat yang isinya: 
 "Milea,
   Ramalanku, kita akan bertemu di Kantin,                     ternyata salah..
   Maaf, tapi aku mau meramal lagi :
   Besok Kita akan Ketemu."
     Tunggu, Besok yang dimaksud deh Dilan itu adalah Hari Minggu? Nggak mungkin kan, mereka Bertemu? Pikir Milea. Namun, ternyata ramalannya kali ini Benar. Dilan datang ke Rumah Milea untuk menyampaikan surat undangannya yang berisi untuk mengajak Milea sekolah.
     Hal-hal yang sederhana ini nyatanya dapat membuat Milea tersenyum dan perlahan mulai menaruh perhatian kepeda Dilan. Sosok Dilan dikenal badung di sekolah. Dia adalah Panglima di geng motor terkenal di Bandung. Setiap ada kehebohan di Sekolah, Dilan dan kawan-kawannya pasti menjadi Biang Onar. Seperti, Merubuhkan dinding pembatas kelas, hanya karena kelas dia dan Milea berseblahan.
     Suatu hari, Saat Dilan mengikuti Milea pulang dengan Angkot. Ia berkata, 
 "Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.      Enggak tahu kalau sare. Tunggu saja."
Perkataan Dilan ini membuat hati Milea berdebar-debar, Mungkin kaget atas perkatakan Dilan.
     Mulanya, Milea tidak menganggap Dilan. Dia kerap Judes saat harus bertatapan dengan si Peramal - Sebutan Milea Kepada Dilan - Apalagi Milea punya Pacar di Jakarta, Beni. Namun, Perhatian Dilan yang unik kepadanya membuatnya diam-diam memikirkan Dilan. Dilan menjadi sosok antimainstream di kehidupan Milea.
     Lambat laun, seiring berjalaninya waktu, Milea dan Dilan menjadi akrab Milea mergetahui beberapa tentang Dilan dari Wati, Sepupu Dilan yang sekelas dengannya. Perkenalan yang tidak biasa membawa Milea mengenal keunikan Dilan lebih jauh. Dilan yang baik, pintar dan ramantis dengan caranya sendiri.
     Disaat cavo lain memberikan kado Boneka saat Milea berulang tahun, Dilan malah memberi buku TTS (Teka teki Silang) yang sudah diisinya semua. Dengan surat didalamnya dengan tujuan Milea tidak pusing mengisi tts nya.
     Milea begitu salut kepada Dilan seperti Hal-hal lucu saat telponan dengan Milea terutama Keberanian Dilan bermain Kerumah Milea dan berjumpa dengan Ayahnya yang terkenal Galak.
     Masa PDKT mereka terbilang Mengasyikkan. Tanpa ada Internet di Masa itu, Dilan harus menelpon Milea dari telefon umum koin atau langsung datang ke rumah Milea. Hal-hal yang mungkin tidak ada lagi di zaman sekarang, karena kecanggihan internet. 
     Hingga akhirnya, Milea putus dengan Beni. Beni dengan Kasamya Menghina Milea didepan umum. Saat itu, Sekolah Milea di Bandung terpilih menjadi peserta Cerdas Cermat TVRI, Beberapa siswa yang bukan peserta dianjurkan untuk ikut memberikan semangat. Milea salah satunya, Beni dan Milea sudah Janji akan bertemu tetapi karena telat, Milea pergi makan bersama temannya. Tiba-tiba Beni datang dengan marah-marah karena Milea makan bersama cowo lain dan hampir menampar temannya Milea. Melihat sikap Beni yang terlalu kasar, Milea melontartan
kata "Putus" Kepada Beni dan pergi. 
     Milea merasa bahwa la masih berhak mendapat yang terbaik untuknya. Setelah bertemu deryan Dilan. Ia merasa Dilan jauh lebih baik daripada Beni. Semakin hari mereka mulai sangat dekat, juga dengan keluarganya, terutama dengan Keluarga Dilan. Akhirnya, Milea benar-benar jatuh cinta pada Dilan yung selalu membuat dia Bahagia. Bersama Dilan, Ia merasa benar-benar dicintai sebagai seorang Perempuan.
     Satu-satunya yang tidak disukai Milea dari Dilan adalah Geng motornya. Milea takut itu akan merusak masa depan Dilan dan membawa pergaulan yang buruk kepadanya. Meski begitu, Dilan selalu meyakinkan Milea bahwa tidak semua geng motor seperti yang Dia pikirkan.
     Hingga akhir cerita, Mereka jadian di Warung Bu Een, dimara Dilan baru saja disidang karena berkelahi di sekolah. Disaat itulah, saat dimana nasibnya diujung penentuan apakah masih diterima menjadi siswa di sekolahnya atau di Do karena banyak melanggar peraturan, Dilan menyatakan cintanya kepada Milea secara resmi dengan tulisan dan Lisan, lengkap dengan materai dan tanda tangan. Bu Een yang melitat itu hanya tersenyum Gemas melihat Kelakuan Dilan.
     Kemudian, di bawah guyuran hujan, mereka menikmati masa indah sesaat setelah jadian. Berboncengan dengan Motor CB Dilan, Mengarungi Jalan Buah batu.

     Keunggulan novel terdapat pada isi Novel yang banyak percakapan. Hal ini memudahkan Pembaca yang tidak suka dengan permainan kata berbelit-belt. Bahasa yang digunakan penulis juga bahasa santai dan mengandung tawa. Banyak tokoh juga yang muncul pada Novel ini. Pada Novel ini terdapat juga ilustrasi adegan yang membuat novel ini berbeda dengan Novel romans umumnya. Sampulnya terlihat menarik. Dengan remaja berdiri didepan motor yang buming pada tahun 1900-an. Cerita yang dibawakan juga bersifat santai.

     Kelemahan terdapat pada beberapa kalimat percakapan yang Kurang nyambung, barangkali pengaruh latar waktu tahun 1900 yang membuat pembaca yang bukan angkatan tahun 1900 sulit memahami percakapan didalam novel ini. Novel ini juga terlalu sering menonjolkan karakter Dilan dan lebih banyak bercerita tentang Dilannya saja, sehingga Peran Milea seperti Terabaikan.

"Cinta itu Indah Jika Bagimu Tidak Mungkin kamu Salah Pasangan (Pidi Baiq, 1973 - 2098)"























Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transparant Frog (?)

Berbagai Teknik Pendekatan Masalah